Cahaya di Ujung Sungai: Perjalanan Mimpi Yuyun

Oleh : Iliyun Nurhidayah
Guru SMPN 3 Ngrambe

Bab 1: Riak Sungai dan Pelepah Kelapa
Matahari siang itu memantul di permukaan sungai yang jernih. Di antara bebatuan, Yuyun
kecil tertawa riang. Baginya, sungai adalah taman bermain terbaik setelah lelah belajar di
SD Inpres. Keahliannya menangkap ikan tak perlu diragukan lagi; tangannya lincah
bergerak di balik arus.
“Yuuuun, ayo segera naik! Waktunya sekolah madrasah!”
Teriakan itu memecah keseruan. Di bantaran sungai, kakek sudah berdiri tegak. Di
tangannya terselip ujung pelepah kelapa—senjata andalan untuk menggertak cucu
kesayangannya.
“Ayo naik, nanti terlambat! Awas ya, kakek cambuk atau kakek adukan ke orang tuamu!”
ancam sang kakek sambil terkekeh dalam hati.
Yuyun adalah titipan cinta. Di desa itulah, di bawah asuhan kakek dan nenek, ia
menghabiskan 13 tahun pertamanya sementara orang tuanya beradu nasib di kota.
Kehidupan desa yang sederhana membentuk jiwanya menjadi pribadi yang tangguh dan
menghargai alam.
Bab 2: Bisikan di Tengah Keterbatasan
Waktu berlalu, Yuyun remaja harus meninggalkan sungai kenangannya untuk menyusul
orang tua ke kota demi pendidikan yang lebih tinggi. Hidup di kota tidaklah mewah. Dengan
lima bersaudara, orang tua Yuyun harus memutar otak agar dapur tetap mengepul dan
sekolah tetap berjalan.

“Yun, kalau sudah lulus SMP, masuk SPG (Sekolah Pendidikan Guru) saja ya. Biar cepat
jadi guru, cepat kerja,” bisik ayahnya hampir setiap malam.
Bagi orang tuanya, menjadi guru adalah jalan pintas menuju kemapanan yang terhormat.
Mereka ingin Yuyun memiliki hidup yang lebih baik, tidak seperti mereka yang harus banting
tulang di jalanan kota.
Namun, di dalam hati Yuyun, ada gejolak lain. Ia melihat Mbak Santi, seniornya di Karang
Taruna, yang tampak gagah bekerja di perusahaan besar hanya dengan ijazah SMA.
“Lulusan SMA bisa langsung jadi Kepala Staf, Yun. Sekolah SMA saja, nanti mbak bantu
cari kerja,” goda Santi suatu hari.
Bab 3: Kebohongan Putih dan Takdir yang Berbelok
Saat hari pendaftaran tiba, ayahnya memberikan uang saku dengan harapan besar agar
Yuyun mendaftar ke SPG. Namun, keteguhan hati Yuyun membawanya ke arah lain. Ia
sengaja melewatkan batas pendaftaran SPG.
“Gimana pendaftarannya, Yun?” tanya bapaknya saat ia pulang.
Dengan jantung berdegup kencang, Yuyun menunduk. “Saya tidak diterima, Pak… katanya
tinggi badan saya kurang,” bohongnya pelan.
Alih-alih marah, sang ayah justru mengusap kepala Yuyun dengan sabar. “Ya sudah, kalau
begitu sekolah SMA saja. Tapi karena tidak dapat negeri, kamu masuk ke SMA
Muhammadiyah ya, supaya pendidikan agamamu kuat.”
Di sekolah itulah, takdir mulai merajut rencananya. Yuyun bertemu dengan seorang guru
Biologi yang luar biasa telaten. Cara guru itu menjelaskan tentang sel, kehidupan, dan alam
semesta membangkitkan kembali memori Yuyun tentang sungainya di desa. Ironisnya, di
sekolah yang bukan pilihannya, Yuyun justru menemukan panggilan jiwanya: ia ingin
menjadi guru.
Bab 4: Membayar Mimpi dengan Keringat
“Pak, saya mau mendaftar ke IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Saya mau ambil
jurusan Biologi,” ujar Yuyun mantap setelah lulus SMA.
Ayahnya menatap Yuyun dalam-dalam. “Bapak bolehkan, tapi Bapak hanya bisa bayar
SPP-nya saja. Adik-adikmu banyak, Yun. Untuk ongkos, jajan, dan buku, kamu harus cari
sendiri.”
Tantangan itu tidak menyurutkan langkahnya. Terinspirasi oleh ketelatenan gurunya, Yuyun
menjalani hari-hari kuliah yang padat. Pagi hingga siang ia bergelut dengan mikroskop dan
teori biologi; sore hingga malam ia berubah menjadi penjaga toko paruh waktu. Tak jarang,
ia menyempatkan diri memberi les privat dari rumah ke rumah demi beberapa lembar rupiah
tambahan.
Lelah? Tentu saja. Namun, setiap kali ia merasa ingin menyerah, ia teringat teriakan kakek
di pinggir sungai dan pengorbanan orang tuanya. Yuyun membuktikan bahwa meski
jalannya berliku—dari membohongi takdir hingga bekerja kasar demi kuliah—niat tulus untuk
memberi ilmu akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Bab Penutup: Menuai Benih di Kebun Ilmu

Tahun-tahun penuh peluh itu akhirnya terbayar tuntas. Hari di mana Yuyun mengenakan
seragam guru untuk pertama kalinya adalah hari yang paling mengharukan bagi
keluarganya. Bapak, yang dulu sempat ia bohongi soal pendaftaran SPG, kini berdiri dengan
punggung yang mulai membungkuk namun dengan sorot mata yang penuh kebanggaan.
“Ternyata, kamu tetap menjadi guru pada akhirnya, Yun,” bisik Bapak sambil menjabat
tangan putrinya. Yuyun hanya tersenyum simpul, menyadari bahwa takdir memiliki cara
yang unik untuk menuntunnya pulang ke pengabdian.
Yuyun tidak sekadar menjadi guru biasa. Ketelatenannya dalam mengajar Biologi membuat
ia dicintai oleh murid-muridnya, persis seperti guru SMA-nya dulu yang menginspirasinya. Ia
bukan tipe guru yang hanya terpaku pada buku teks; tak jarang ia mengajak siswa-siswinya
belajar langsung di alam, mengingatkan ia pada masa kecilnya di bantaran sungai.
Keberhasilan Yuyun juga terlihat dari cara ia mengangkat derajat keluarganya. Dari hasil
jerih payahnya mengajar dan ketekunannya mengelola tabungan, ia mampu membantu
biaya pendidikan adik-adiknya hingga mereka semua lulus sekolah. Ia membuktikan pesan
orang tuanya: bahwa hidupnya harus berbeda, lebih baik, dan lebih bermanfaat bagi orang
banyak.
Kini, setiap kali Yuyun melihat anak-anak kecil bermain di pinggir sungai saat ia pulang
kampung, ia selalu teringat akan teriakan Kakek dan pelepah kelapanya. Ia sadar,
kedisiplinan di masa kecil dan perjuangan berdarah-darah di masa muda adalah pupuk
terbaik bagi kesuksesan yang ia nikmati sekarang.
Yuyun telah bertransformasi; dari seorang gadis kecil pencari ikan di sungai, menjadi
seorang pendidik yang memancing potensi-potensi besar di dalam jiwa murid-muridnya.

Pesan Moral:
Terkadang, jalan yang kita benci membawa kita ke tempat yang kita cintai. Keberhasilan
bukan hanya soal bakat, tapi tentang seberapa keras kita berjuang membiayai mimpi kita
sendiri.
Pesan Penutup:
“Pendidikan adalah jembatan yang kita bangun dengan kerja keras. Saat kita sampai di
ujungnya, tugas kita bukan hanya berdiri di sana, tapi membantu orang lain untuk ikut
menyeberang.”



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Profil Guru SMPN 3 Ngrambe

“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”

_Ki Hajar Dewantara_

Sri Lestari, S.S., M.Pd.
Sudiyanto, S.Pd.
Hartono, S.Pd.
Sri Widiarti, S.Pd., M.Pd.
Surati, S.Pd.
Suroto, S.Pd.
Ilyun Nur Hidayah, S.Pd.
Nyoto, S.Pd.
Unik Puji Rahayu, S.S
Agil Wicahyandari, S.Pd.
Fitri Asari, S.Pd.
Hamangku Bawaning L, S.Pd.
Rohmat Abdul Lathif, S.Pd.
Heru Wahyono, S.Pd.
Riska Sugara, S.Pd.
Nopita Ningsih, S.Pd.
Ryan Wahyu P, S.Pd.
Nurul Fatatik, S.Pd.
Yayan Nafi’ah Saputri, S.Pd.
Salma Fitriyani, S.Pd.
Eni Apriliyawati, S.Pd.
Latifatul Ummah, S.Pd.
Ainun Nisa, S.Pd.
Lutfi Mey Nurafifah, S.Sos
Nurul Fathikhin, S.Pd.
Rosita Dewi M, S.Pd.
Novia Yuni P, S.Pd.

·

·