Menjemput Cahaya di Kaki Lawu

Kabut tipis masih memeluk lereng Gunung Lawu ketika aku memarkirkan sepeda motor di halaman SMPN 3 Ngrambe. Udara sejuk khas daerah ini selalu berhasil menenangkan hati, seolah alam pun bertasbih menyambut pagi. Namun, bagiku, kedamaian ini bukan sekadar suasana, melainkan panggilan untuk menata hati.

Dulu, aku menganggap menjadi guru hanyalah profesi pengajar. Datang, mengajar, lalu pulang. Namun, ayat Allah dalam QS. Al-Baqarah: 208 menampar kesadaranku:

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan…”

Sejak saat itu, aku bertekad mengubah rutinitas di sekolah ini menjadi ladang ibadah menuju Islam yang kaffah.

Langkah pertamaku dimulai dari Niat. Sebelum masuk ke kelas 7 yang riuh, aku berhenti sejenak di ambang pintu, menata hati bahwa mengajarku hari ini adalah lillahi ta’ala. Aku teringat sabda Nabi SAW:

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Aku menyadari, jika niatku hanya gaji, itulah yang kudapat. Tapi jika niatku mencerdaskan anak bangsa sebagai amanah Allah, maka lelahku menjadi jihad.
Di dalam kelas, tantangan sesungguhnya dimulai.

Menghadapi murid usia remaja di Ngrambe yang lugu namun kritis membutuhkan kesabaran ekstra. Saat ada siswa yang gaduh, alih-alih marah meledak-ledak, aku berusaha menahan lisan dan menasihati dengan lembut. Aku ingin menerapkan akhlakul karimah, sebagaimana firman Allah:

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu…” (QS. Ali ‘Imran: 159).

Senyum tulus kepada siswa, menjawab salam mereka dengan lengkap, adalah amaliah sederhana yang kucoba istiqomahkan.

Ketika adzan Dzuhur berkumandang dari musholla sekolah yang asri, aku segera menghentikan aktivitas. Aku mengajak siswa-siswaku untuk bergegas mengambil air wudhu. Menjadi Muslim kaffah berarti tidak menunda panggilan Allah demi urusan duniawi.

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103).

Sujud bersama siswa dan rekan guru di tengah heningnya siang Ngrambe memberikan kekuatan baru. Di sana, kulepaskan atribut “guru” dan kembali menjadi hamba yang kerdil.

Sore harinya, saat bel pulang berbunyi dan gerbang sekolah mulai sepi, aku pulang dengan rasa syukur. Perjalanan menjadi kaffah bukanlah perubahan drastis dalam satu malam, melainkan konsistensi (istiqomah) dalam menyertakan Allah di setiap tarikan napas—baik saat menjelaskan pelajaran di papan tulis, maupun saat bersenda gurau dengan rekan sejawat.

Di SMPN 3 Ngrambe yang sejuk ini, aku belajar bahwa Islam kaffah bukan hanya tentang panjangnya ayat yang dihafal, tapi tentang bagaimana akhlak dan ibadah menyatu dalam denyut nadi kehidupan sehari-hari.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Profil Guru SMPN 3 Ngrambe

“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”

_Ki Hajar Dewantara_

Sri Lestari, S.S., M.Pd.
Sudiyanto, S.Pd.
Hartono, S.Pd.
Sri Widiarti, S.Pd., M.Pd.
Surati, S.Pd.
Suroto, S.Pd.
Ilyun Nur Hidayah, S.Pd.
Nyoto, S.Pd.
Unik Puji Rahayu, S.S
Agil Wicahyandari, S.Pd.
Fitri Asari, S.Pd.
Hamangku Bawaning L, S.Pd.
Rohmat Abdul Lathif, S.Pd.
Heru Wahyono, S.Pd.
Riska Sugara, S.Pd.
Nopita Ningsih, S.Pd.
Ryan Wahyu P, S.Pd.
Nurul Fatatik, S.Pd.
Yayan Nafi’ah Saputri, S.Pd.
Salma Fitriyani, S.Pd.
Eni Apriliyawati, S.Pd.
Latifatul Ummah, S.Pd.
Ainun Nisa, S.Pd.
Lutfi Mey Nurafifah, S.Sos
Nurul Fathikhin, S.Pd.
Rosita Dewi M, S.Pd.
Novia Yuni P, S.Pd.

·

·