Karya: Mr. Nyoto

Di sebuah sudut desa yang udaranya masih beraroma tanah basah dan asap kayu bakar, berdirilah Masjid Al Ikhlas. Masjid ini tidak memiliki menara yang menjulang tinggi hingga menembus awan, pun tidak berlapis marmer mewah dari luar negeri. Namun, ubinnya selalu mengilap dan atmosfer di dalamnya terasa sejuk, sebuah ketenangan yang hanya bisa lahir dari ketulusan ibadah warganya. Salah satu “pilar” tak terlihat dari kemakmuran masjid ini adalah seorang pria berusia 74 tahun yang akrab dipanggil Mbah Supar.

Mbah Supar bukan sekadar jamaah; ia adalah “alarm” hidup sekaligus muadzin batin bagi warga desa. Meski langkah kakinya sudah sering gemetar dan punggungnya kian membungkuk dimakan usia, ia memegang teguh prinsip bahwa kaki yang digunakan untuk melangkah ke masjid adalah kaki yang kelak akan meringankan hisab di akhirat. Baginya, setiap jengkal tanah yang ia tapaki menuju masjid adalah saksi yang akan bicara di hadapan Allah SWT.

Suatu subuh yang menggigit tulang, saat kabut tebal masih menyelimuti sawah-sawah, Mbah Supar sudah keluar dari rumah sederhananya. “Tok… tok… srek…” suara tongkat kayu setianya beradu dengan paving block yang basah oleh embun. Suara itu adalah irama istiqamah yang sudah dihafal oleh telinga warga.

Kiweng, tetangga mudanya yang seringkali kalah telak dalam “jihad” melawan selimut, merasa tersindir halus setiap kali melihat bayangan Mbah Supar lewat di depan jendelanya. Suatu hari, Kiweng yang baru terbangun dengan mata merah bertanya, “Mbah, apa nggak linu kakinya kena embun sedingin ini? Apa nggak lebih baik sholat di rumah saja kalau sudah sepuh begini? Kan ada rukhsoh (keringanan) buat orang tua.”

Mbah Supar berhenti sejenak, terkekeh hingga menampakkan beberapa geligi yang tersisa. “Weng, Kiweng… Linu itu kalau raga cuma dimanja buat tidur. Tapi kalau dibawa ke Masjid, kaki ini malah jadi ‘mesin diesel’, makin panas makin mantap bertenaga. Lagian, Weng, Rasulullah dawuh sholat berjamaah itu pahalanya 27 derajat. Kalau sholat sendiri di rumah, ibarat makan soto tanpa kuah. Seret di tenggorokan, hambar di jiwa! Aku ini sudah bau tanah, kalau nggak nabung derajat sekarang, mau kapan lagi?”

Bagi warga desa, Masjid bukan sekadar tempat sujud vertikal kepada Sang Pencipta. Ia adalah laboratorium sosial di mana ayat-ayat Allah tentang kasih sayang dipraktikkan secara nyata. Di sanalah silaturahmi terjalin tanpa sekat kasta. Antara tuan tanah yang kaya, petani penggarap, pegawai kantoran, hingga pekerja serabutan, semua menanggalkan atribut dunianya saat berdiri di belakang imam.

Setiap selesai salam, Mbah Supar memiliki ritual yang ia sebut sebagai “dzikir sosial”: nongkrong di teras masjid. Ia sangat paham bahwa Islam adalah agama yang menghendaki pemeluknya peduli pada tetangga. Di teras itulah, dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan) terjadi secara alami.

“Lho, Kang Yadi, kok raut mukanya seperti sujud yang nggak bangun-bangun? Sedih amat, kurang ngopi apa kurang setoran?” goda Mbah Supar suatu sore setelah sholat Ashar.

“Sapi saya mogok makan sejak kemarin, Mbah. Khawatir saya kalau sampai mati,” keluh Yadi dengan suara parau.

Tak butuh waktu lama bagi keajaiban jamaah untuk bekerja. Pak Wo, seorang sesepuh lain yang duduk di sebelah mereka, langsung menimpali, “Jangan bingung, Yadi. Habis Maghrib nanti saya mampir bawa ramuan temulawak dan empon-empon. Dulu sapi saya sembuh pakai itu. InsyaAllah, ada jalannya.”

Inilah indahnya memakmurkan masjid. Masalah duniawi yang tadinya terasa mencekik leher, mendadak menjadi ringan karena dipikul bersama. Di Masjid, mereka tidak hanya sujud bersama, tapi juga saling merangkul beban hidup masing-masing.

Suasana di teras Masjid seringkali pecah oleh tawa berkat banyolan khas Mbah Supar yang religius namun jenaka. Suatu waktu setelah Maghrib, ia memberikan nasihat tentang pentingnya menjaga hubungan dengan masjid.

“Kalian tahu nggak, kenapa orang yang nggak pernah ke masjid itu rugi dunia akhirat?” tanya Mbah Supar dengan wajah diserius-seriuskan.

“Kenapa, Mbah? Apa karena doanya nggak makbul?” tanya seorang remaja yang sedang mengaji.

Mbah Supar menggeleng. “Itu sudah pasti. Tapi ada yang lebih lucu. Kalau kalian rajin ke masjid, minimal kalau meninggal nanti, malaikat Izrail nggak usah repot-repot cari alamat, dan orang-orang sedesa sudah kenal wajah kalian. Begitu keranda digotong, warga semangat takziah karena yang meninggal itu kawan sujudnya. Nah, kalau yang nggak pernah ke masjid, pas meninggal warga bakal bingung: ‘Ini yang mati siapa ya? Kayaknya dulu cuma mitos atau penunggu rumah itu’. Apa kalian mau mati dalam keadaan dianggap mitos?”

Tawa jamaah pecah seketika, namun di balik tawa itu, ada kesadaran yang menancap di hati mereka: bahwa masjid adalah rumah sesungguhnya bagi seorang mukmin.

Melalui sosok sederhana seperti Mbah Supar, warga desa belajar bahwa memakmurkan masjid bukan sekadar soal menyumbang semen atau membangun kubah berlapis emas. Memakmurkan masjid adalah tentang menghidupkan hati yang terpaut pada rumah Allah. Masjid menjadi saksi bisu bagaimana sholat berjamaah mampu meleburkan ego menjadi satu ikatan persaudaraan yang kokoh—sebuah cerminan dari ukhuwah islamiyah yang hakiki.

Meski jalan Mbah Supar makin hari makin tertatih, ia tetap membuktikan bahwa raga boleh layu, namun semangat untuk menjemput ridha Ilahi harus tetap menyala. Di dalam Masjid, mereka tidak hanya menemukan ketenangan saat berhadapan dengan Sang Pencipta, tetapi juga menemukan keluarga yang saling mencintai karena Allah. Langkah Mbah Supar adalah pengingat bagi yang muda: jika orang tua dengan kaki gemetar saja sanggup mendatangi panggilan-Nya, lantas alasan apa yang dimiliki mereka yang sehat untuk tetap berdiam diri di rumah?



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Profil Guru SMPN 3 Ngrambe

“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”

_Ki Hajar Dewantara_

Sri Lestari, S.S., M.Pd.
Sudiyanto, S.Pd.
Hartono, S.Pd.
Sri Widiarti, S.Pd., M.Pd.
Surati, S.Pd.
Suroto, S.Pd.
Ilyun Nur Hidayah, S.Pd.
Nyoto, S.Pd.
Unik Puji Rahayu, S.S
Agil Wicahyandari, S.Pd.
Fitri Asari, S.Pd.
Hamangku Bawaning L, S.Pd.
Rohmat Abdul Lathif, S.Pd.
Heru Wahyono, S.Pd.
Riska Sugara, S.Pd.
Nopita Ningsih, S.Pd.
Ryan Wahyu P, S.Pd.
Nurul Fatatik, S.Pd.
Yayan Nafi’ah Saputri, S.Pd.
Salma Fitriyani, S.Pd.
Eni Apriliyawati, S.Pd.
Latifatul Ummah, S.Pd.
Ainun Nisa, S.Pd.
Lutfi Mey Nurafifah, S.Sos
Nurul Fathikhin, S.Pd.
Rosita Dewi M, S.Pd.
Novia Yuni P, S.Pd.

Langkah Tertatih Menuju Cahaya Ilahi

·

·